Menjalin relasi dengan sesama
Orang-orang
yang sudah menerima Kristus seharusnya langsung menjalin hubungan dengan cara
yang baru, baik dengan Allah (dalam relasi “anak-Bapak”), dengan sesama orang
percaya (dalam relasi sebagai “saudara di dalam Kristus”), maupun dengan “orang
luar”.
Relasi
yang intim dengan Allah sebagai Bapa kita harus dijalin melalui ketekunan
berdoa, baik untuk keperluan diri sendiri maupun untuk keperluan sesama
(4:2-3). Doa akan membuat kita bisa mengenali bagaimana Allah bekerja bagi kita
dan melalui kita. Pengenalan itu akan membuat kita bisa mengucap syukur atas
apa yang telah Allah kerjakan.
Relasi
persaudaraan dengan sesama orang percaya harus dijalin melalui kebiasaan saling
mendoakan, saling memperhatikan, dan saling menolong. Menjalin relasi dengan
sesama orang percaya itu tidak cukup bila hanya dilakukan dalam pertemuan umum,
tetapi harus dilakukan secara pribadi. Perhatikan bahwa Rasul Paulus bukan
hanya melayani massa (orang banyak), tetapi juga melayani perorangan (1:28). Perhatian
Rasul Paulus terhadap perorangan itu juga bisa dilihat dari banyaknya nama yang
disebut oleh Rasul Paulus dalam surat-suratnya. Dalam surat Kolose, Rasul
Paulus menyebut nama Timotius (1:1), Epafras (1:7; 4:12), Tikhikus (4:7),
Onesimus (4:9), Aristarkhus (4:10), Markus – kemenakan Barnabas (4:10), Yesus
yang dinamai Yustus (4:11), Lukas (4:14), Demas (4:14), Nimfa (4:15), dan
Arkhipus (4:17). Uraian singkat tentang beberapa nama yang dia sebut
menunjukkan perhatian Rasul Paulus terhadap teman-temannya.
Relasi
dengan “orang luar” (bukan orang percaya) dijalin melalui kesaksian hidup yang
baik, yaitu dengan hidup penuh hikmat, khususnya dalam memakai waktu (4:5),
serta kata-kata yang penuh kasih (4:6).
Kolose 4:6
“Hendaklah
kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu,
bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

